Jayapura, realitapapuacom – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura merilis prakiraan terbaru mengenai fenomena El Niño yang akan melanda wilayah Papua pada tahun ini. Masyarakat diimbau untuk tidak panik namun tetap waspada, mengingat fenomena ini diprediksi akan memasuki fase menengah atau moderat pada pertengahan tahun.
Prakirawan BMKG Wilayah V Jayapura, Sterly Mustamu, menjelaskan bahwa perkembangan El Niño terbagi dalam tiga kategori: lemah, menengah (moderat), dan kuat. Berdasarkan data terkini, kondisi cuaca di Papua saat ini masih dalam kondisi normal.
“Untuk bulan April ini, kita masih berada pada fase netral, sehingga belum ada dampak El Niño yang signifikan di wilayah Papua,” ujar Sterly dalam keterangannya.Selasa ( 21 / 04/ 2026)
Menurut analisis BMKG, transisi menuju kemarau akan terjadi secara bertahap:
Maret – Juli: Mulai memasuki fase lemah.
Juni – Agustus: Intensitas meningkat dari fase lemah menuju moderat. Juli – September: Memasuki fase moderat (menengah). Periode ini menjadi perhatian utama karena durasinya yang diprediksi cukup panjang.
Meskipun diprediksi tidak langsung mencapai level ekstrem atau kuat, fase moderat tetap membawa risiko serius bagi lingkungan dan masyarakat.
Penurunan drastis curah hujan di berbagai wilayah mengancam sektor pertanian dan ketersediaan air bersih. Kondisi lahan yang kian mengering juga memperbesar risiko munculnya titik api, terutama di daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Fase moderat ini berada di tingkat menengah—tidak sekuat fase ekstrem, namun tetap perlu diwaspadai karena durasinya yang lebih panjang. Puncak kemarau ini memicu penurunan curah hujan secara signifikan di sejumlah wilayah, yang jika terus berlanjut, akan berujung pada kekeringan parah,” ungkapnya.
Khusus untuk wilayah Papua Pegunungan, kekeringan ekstrem dapat memicu penurunan suhu udara secara drastis pada malam hari, yang berpotensi memunculkan fenomena embun beku.
“Puncak musim kemarau ini akan mengakibatkan curah hujan sangat berkurang. Kami mengimbau masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air dan waspada terhadap potensi kebakaran lahan,” tutup Sterly. (Redaksi)









