Jayapura, realitapapua.com — Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah V Jayapura mencatat lebih dari 2.500 kejadian gempa bumi mengguncang wilayah kerjanya sepanjang periode Januari hingga Juni 2026. Dari ribuan aktivitas seismik tersebut, Provinsi Papua menjadi daerah dengan tingkat aktivitas kegempaan paling dominan.
Observer BBMKG Wilayah V Jayapura, Dinda Aulia salsabilah, mengungkapkan bahwa puncak aktivitas gempa bumi terjadi pada bulan Mei 2026.
“Jumlah kejadian gempa bumi tertinggi tercatat pada bulan Mei, yaitu mencapai lebih dari 450 kali kejadian. Secara umum, variasi kekuatan gempa sepanjang semester pertama ini didominasi magnitudo berkisar M2,0 hingga M3,0 dengan kedalaman dangkal di bawah 20 km ” ujar Dinda
dalam keterangan resminya.
Ia menjelaskan, dari total 2.500 lebih gempa yang terdeteksi, terdapat 39 kejadian gempa bumi yang dirasakan getarannya oleh masyarakat. Frekuensi gempa dirasakan paling banyak terjadi pada bulan Februari, yakni sebanyak 9 kali.
Adapun gempa bumi dengan magnitudo terbesar selama periode enam bulan ini tercatat berkekuatan M5{,}9 yang mengguncang kawasan Yalimo, Papua Pegunungan, pada 27 Maret 2026 pukul 07.51 WIT
“Gempa Yalimo tersebut dirasakan dengan intensitas III MMI di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, serta II–III MMI di Wamena dan Kabupaten Sarmi,” tambah Dinda.
Berdasarkan hasil analisis kegempaan BBMKG V, Provinsi Papua mencatatkan aktivitas seismik paling tinggi dibanding wilayah lain di kawasan kerja BBMKG V, dengan rata-rata kisaran 150 hingga 200 kejadian gempa bumi tiap bulannya.
Dinda menegaskan, tingginya frekuensi gempa di wilayah Papua secara umum merupakan kondisi yang normal. Hal ini disebabkan oleh letak geografis Papua yang berada pada pertemuan beberapa lempeng tektonik utama serta jalur sistem sesar aktif, sehingga memicu aktivitas seismik yang relatif tinggi sepanjang tahun.
Meskipun demikian, BBMKG Wilayah V Jayapura memastikan akan terus melakukan pemantauan aktivitas tektonik secara berkelanjutan selama 24 jam.
Masyarakat diimbau agar tetap tenang, tidak mudah terprovokasi oleh isu atau informasi simpang siur yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, serta aktif memantau pembaruan informasi resmi dan langkah kesiapsiagaan bencana melalui kanal-kanal resmi BMKG.
( Redaksi)









