Jayapura,realitapapua.com – Stasiun Meteorologi Maritim Dok II Jayapura mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem di wilayah perairan utara Papua yang diprediksi berlangsung mulai 27 hingga 30 Januari 2026. Masyarakat, khususnya nelayan dengan kapal tradisional, diimbau untuk tidak memaksakan diri melaut jika kondisi cuaca tidak memungkinkan.
Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Dok II Jayapura, Heri Purnomo, S.Si, mengungkapkan bahwa peningkatan tinggi gelombang dan kecepatan angin ini dipicu oleh pertumbuhan siklon tropis yang terjadi secara bergantian, serta munculnya pusat tekanan rendah di utara Papua.
Berdasarkan data BMKG, potensi gelombang tinggi dengan kategori sedang (1,25 hingga 2,5 meter) diprediksi akan terjadi di beberapa titik strategis, antara lain Perairan Kepulauan Mapia (sebelah Biak).Perairan utara dan selatan Serui.Perairan Jayapura dan perairan Sarmi-Mamberamo.Perairan barat, timur, utara, dan selatan Biak.
“Dampak dari siklon tropis ini sangat terasa, terutama pada kecepatan angin yang secara tidak langsung meningkatkan ketinggian gelombang. Kami meminta kapal-kapal nelayan waspada. Jika tidak memungkinkan, jangan memaksakan berangkat,” ujar Heri Purnomo saat ditemui di Jayapura.selasa (27/01/2026)
Heri menjelaskan bahwa periode November hingga Februari merupakan masa puncak musim hujan di wilayah Papua. Kondisi ini sering kali dibarengi dengan fenomena cuaca ekstrem yang muncul secara tiba-tiba akibat perubahan dinamika atmosfer.
Terkait keselamatan pelayaran, Heri menekankan bahwa kapal dengan bobot kecil sangat rentan jika kecepatan angin telah melampaui 15 knot. Meski kapal besar seperti milik Pelni cenderung lebih aman, pihak otoritas pelabuhan (KSOP) tetap memegang kendali penuh atas izin berlayar.
“Beberapa waktu lalu di Biak, KSOP sempat melarang kapal keluar pelabuhan karena kondisi yang sangat ekstrem. Untuk penyeberangan antar-pulau seperti dari Biak ke Supiori, Numfor, atau Serui, ini yang sangat perlu diwaspadai,” tambahnya.
BMKG terus menjalin koordinasi ketat dengan pihak KSOP di Biak, Jayapura, hingga Kepulauan Yapen dan Waropen untuk memastikan informasi cuaca tersampaikan secara real-time kepada para nakhoda.
Di akhir keterangannya, Heri Purnomo memberikan himbauan khusus kepada para nelayan pesisir yang menggunakan kapal tradisional.
“Utamakan keselamatan di atas segalanya. Kami meminta para nelayan untuk terus memantau perkembangan cuaca melalui media sosial resmi BMKG Stamardok II atau menghubungi contact person di UPT kami.
Selain itu, kami berharap Dinas Perikanan dan Kesyahbandaran Perikanan dapat terus mendampingi para nelayan dalam menghadapi kondisi ini,” tutupnya.( Redaksi)









