Biak Numfor , realitapapua.com — Polda Papua akhirnya mengungkap titik terang terkait insiden ledakan hebat yang mengguncang Kompleks Perikanan, Kabupaten Biak Numfor, pada Minggu, 31 Mei 2026 lalu. Berdasarkan hasil analisis ilmiah, ledakan tersebut dipicu oleh aktivitas pemotongan mortir.
Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol. Cahyo Sukarnito, menjelaskan bahwa proses Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) sempat tertunda demi keselamatan petugas. Polisi harus memastikan lokasi steril dari bahaya laten.
“Olah TKP baru dapat dilakukan setelah Tim Penjinak Bom (Jibom) Satbrimob Polda Papua memastikan lokasi benar-benar aman dari potensi ledakan susulan,” ujar Kombes Pol. Cahyo.
Dari hasil pemeriksaan mendalam, Tim Laboratorium Forensik (Labfor) berhasil mengidentifikasi titik pusat ledakan. Daya hancur yang besar meninggalkan bekas yang signifikan di lokasi kejadian.
Ledakan tersebut diketahui bersumber dari kolong rumah milik salah seorang warga, yang menyisakan kawah menganga dengan diameter sekitar 3,6 meter dan kedalaman mencapai 80 sentimeter.
Selain mengidentifikasi titik ledak, tim gabungan juga mengamankan 111 barang bukti penting dari lokasi kejadian, di antaranya: Sampel material dari pusat ledakan 88 serpihan logam Mata gergaji besi, mata gerinda, dan mesin gerinda
Proyektil logam Botol berisi serbuk yang diduga sisa bahan peledak dan Pakaian milik korban.
Berdasarkan uji Laboratorium Forensik, 88 serpihan logam yang ditemukan di TKP dipastikan identik dengan komponen mortir yang masih utuh dan semuanya berasal dari jenis yang sama.
Tak hanya itu, pemeriksaan kimia forensik mengonfirmasi adanya kandungan Trinitrotoluene (TNT). Sebagai informasi, TNT merupakan bahan peledak kategori high explosive yang memiliki daya ledak sangat tinggi.
Berdasarkan hasil analisis ilmiah, petaka bermula ketika ada aktivitas pemotongan badan mortir menggunakan gergaji besi.
Gesekan yang terjadi secara terus-menerus antara mata gergaji dan badan logam mortir menghasilkan suhu panas yang ekstrem. Panas tersebut kemudian mengenai fuse (pemicu ledakan) yang berada pada mortir.
Suhu panas itu langsung mengaktifkan booster (penguat), yang akhirnya memicu detonasi atau ledakan besar pada muatan utama berupa TNT di dalam mortir.
Di akhir keterangannya, Kabid Humas Polda Papua memberikan edukasi terkait karakteristik bahan peledak tersebut agar masyarakat lebih waspada.
“TNT tidak akan meledak hanya karena dibakar. Bahan peledak jenis ini memerlukan rangkaian pemicu. Dalam kasus di Biak ini, rangkaian pemicu tersebut aktif akibat panas yang dihasilkan dari proses pemotongan mortir,” pungkasnya. ( Redaksi)









