Polisi Pembangun Generasi Qur’an: Kisah Aiptu Imam Ghozali Menginspirasi di Perbatasan

- Jurnalis

Jumat, 20 Juni 2025 - 14:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keerom, realitapapua.com – Di tengah deru tugas kepolisian yang tak pernah surut, seorang anggota Polres Keerom, Aiptu. Imam Ghozali, telah mengukir jejak inspiratif yang melampaui seragam dinasnya. Ia bukan hanya penegak hukum, tetapi juga sosok pembangun generasi Qur’an di daerah perbatasan negara RI – PNG.

Dengan penuh keikhlasan,ia mendedikasikan waktunya untuk mengajarkan mengaji kepada anak-anak, menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan di sanubari mereka.

Setiap menjelang sore, di Mushola Fatkhun Najah, Jalan Flamboyan RT. 13 RW. 04 Kampung Wiantre, Distrik Skanto, Kabupaten Keerom, Papua. pemandangan hangat ini bisa disaksikan. Aiptu. Imam Ghozali, yang sehari-hari menjabat sebagai Kasubsibankum Sikum Polres Keerom, menyulap diri menjadi guru ngaji.

Dengan ramah dan humanis, ia membimbing sekitar 60 anak, mulai dari usia 5 hingga 17 tahun, dalam memahami ayat-ayat suci Al-Qur’an.”Sudah sekitar 13 tahun saya mengajar ngaji di sini, dari tahun 2012 hingga sekarang,” tutur Aiptu. Imam Ghozali.

Sebuah dedikasi luar biasa yang berawal dari keprihatinan. Ia melihat banyak anak di Kampung Wiantre yang memiliki keinginan mengaji, namun minimnya guru menjadi kendala. “Ada keterpanggilan untuk mengajar, saya lihat anak-anak dari PAUD. sampai SMA. banyak yang mungkin mau mengaji tapi gurunya kurang. Akhirnya kami terpanggil untuk mengajar.”

Awalnya, hanya sekitar lima anak yang mengikuti pengajian. Namun, seiring waktu, kabar tentang inisiatif positif ini menyebar luas di kalangan orang tua. “Orang tua di Kampung Wiantre akhirnya mengetahui, dan sekarang banyak anak-anak yang diantar orang tuanya untuk belajar di sini,” jelasnya.

Lebih dari Sekadar Mengajar Ngaji
Sepulang dinas, Aiptu. Imam Ghozali tak lantas beristirahat. Setelah shalat Ashar, ia langsung beranjak ke mushola. Materi yang diajarkan pun beragam, mulai dari Iqro hingga Al-Qur’an.

Baca Juga :  Kapolsek Heram Berbagi Kasih dengan Tahanan, Wujud Kepedulian di Hari Ulang Tahun

Selepas shalat Maghrib hingga Isya, pelajaran berlanjut dengan pendalaman Al-Qur’an, ilmu fiqh, tajwid, dan tak lupa, penanaman akhlak mulia.
“Mengajar ngaji ini bukan sekadar tugas tambahan, tapi bentuk ibadah dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya kepada anak-anak,” ungkapnya dengan tulus.

“Saya ingin mereka tumbuh dengan dasar agama yang kuat, sehingga bisa menjadi generasi penerus yang beriman dan bertakwa.”tambahnya

Inisiatif Aiptu. Imam Ghozali disambut antusias oleh masyarakat setempat. Dasriah, salah satu orang tua siswa, mengungkapkan rasa syukurnya. “Alhamdulillah respon orang tua sangat senang sekali karena ada kepolisian yang berada di tengah-tengah masyarakat dan memberikan dampak positif bagi kami,” ujarnya. Ia bersyukur ketiga anaknya kini sudah bisa mengaji berkat bimbingan Aiptu. Imam Ghozali.

Senada dengan itu, Sahil, siswa SMP. MTs. Al Azhar Wiantre, merasakan langsung manfaatnya. “Alhamdulillah saat ini saya bisa mengaji. Untung ada Pak Polisi yang bantu ajar, karena selama ini di kampung tidak ada guru mengaji,” tuturnya.

Kisah inspiratif ini diungkapkan langsung oleh Kapolres Keerom, AKBP. Astoto Budi Rahmantyo. Menurut Kapolres, Aiptu. Imam Ghozali memiliki dorongan hati yang kuat untuk membina anak-anak berusia 17 tahun ke bawah, khususnya yang beragama Muslim.

Dengan pemahamannya yang mendalam tentang agama Islam dan kemampuannya dalam mengajar, Aiptu. Imam aktif meluangkan waktu di luar jam dinas untuk membimbing anak-anak tersebut belajar mengaji, mulai dari Iqro hingga Al-Qur’an.”Kami sendiri mengakui, dukungan moral dan material secara materiil memang belum maksimal. Kalaupun ada, itu pun tidak besar, dan sebagian besar berasal dari teman-teman anggota lainnya, termasuk saya sendiri, dengan dukungan yang mungkin tidak banyak,” ujar AKBP. Astoto Budi Rahmantyo.

Baca Juga :  Operasi Rasaka Cartenz 2025: Polda Papua Ungkap Capaian dan Pendekatan Humanis

Namun, hal ini tidak menyurutkan semangat Aiptu Imam.Kepedulian Aiptu. Imam Ghozali sangat terlihat dari caranya mengidentifikasi kebutuhan di lingkungannya. Ia melihat bahwa daripada anak-anak tersebut tersalurkan pada hal-hal negatif, lebih baik mereka diarahkan untuk mempelajari dasar-dasar agama. Setiap pulang sekolah, anak-anak Muslim dikumpulkan di taman bacaan Al-Qur’an dan diajari cara membaca Al-Qur’an hingga lancar.

Tujuan utama dari inisiatif mulia ini adalah harapan akan lahirnya hafidz dan hafidzah Al-Qur’an dari Kabupaten Keerom, khususnya di wilayah binaan Aiptu. Imam Ghozali. Secara lebih luas, penanaman dasar-dasar keagamaan sejak usia dini diyakini akan membawa dampak positif bagi masa depan masyarakat.”Kita tahu saat ini program pemerintah sedang gencar menggalakkan tentang Indonesia Emas 2025, dan mereka inilah calon-calon penerus kita,” terang Kapolres. Kecerdasan intelektual memang penting, namun penanaman akhlak dan moral dianggap jauh lebih krusial di masyarakat saat ini.

Melalui kegiatannya ini, Aiptu. Imam Ghozali secara tidak langsung telah mengajarkan nilai-nilai luhur kepada anak-anak. Diharapkan, mereka tidak hanya menjadi generasi yang pintar secara IQ, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan akhlak yang mulia. “Ini diharapkan nanti akan menjadi generasi-generasi unggulan Indonesia ke depannya,” pungkas AKBP. Astoto Budi Rahmantyo.

Semoga kisah Aiptu. Imam Ghozali ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa dedikasi tulus dan kepedulian sejati mampu menciptakan perubahan besar, bahkan dari langkah-langkah kecil di tengah keterbatasan. Ia adalah bukti nyata bahwa pahlawan sejati tak hanya berjuang di garis depan keamanan, namun juga di garis depan pendidikan dan pembentukan karakter bangsa. (Redaksi)

Berita Terkait

Sentuhan Humanis Satgas Ops Damai Cartenz: Bagi Seragam hingga Edukasi Literasi Digital di Sarmi
Soal Lakalantas Kevin Febrian, Kodam XVII/Cenderawasih Buka Suara dan Bantah Tutup-Tutupi Kasus
Hadir untuk Warga Puncak Jaya, Satgas Yonif 136/Tuah Sakti Padukan Patroli dan Pelayanan Kesehatan Gratis
Polresta Jayapura Kota Siagakan 1.000 Personel Antisipasi Aksi KNPB, Warga Diimbau Tetap Beraktivitas
Tokoh Adat Papua Max Abner Ohee Sebut PSN Peluang Emas Kesejahteraan Papua, Minta Warga Sikapi Bijak Isu Demo
Sidang Putusan Praperadilan Ditolak, Polres Keerom Tegaskan Komitmen Penegakan Hukum Profesional.
Tanamkan Cinta Tanah Air, Satgas Yonif 136/TS Beri Materi Wawasan Kebangsaan di SD Negeri Kalome
Diduga Hilang Kendali di Jalan Ringroad Abepura, Pengendara Motor Meninggal Dunia Usai Tabrak Truk
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 13:06 WIB

Sentuhan Humanis Satgas Ops Damai Cartenz: Bagi Seragam hingga Edukasi Literasi Digital di Sarmi

Kamis, 30 Juli 2026 - 13:01 WIB

Soal Lakalantas Kevin Febrian, Kodam XVII/Cenderawasih Buka Suara dan Bantah Tutup-Tutupi Kasus

Kamis, 30 Juli 2026 - 12:42 WIB

Hadir untuk Warga Puncak Jaya, Satgas Yonif 136/Tuah Sakti Padukan Patroli dan Pelayanan Kesehatan Gratis

Rabu, 29 Juli 2026 - 12:53 WIB

Polresta Jayapura Kota Siagakan 1.000 Personel Antisipasi Aksi KNPB, Warga Diimbau Tetap Beraktivitas

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:45 WIB

Sidang Putusan Praperadilan Ditolak, Polres Keerom Tegaskan Komitmen Penegakan Hukum Profesional.

Berita Terbaru