Jakarta,realitapapua.com – Di balik kokohnya keamanan negara, terdapat sosok-sosok yang bekerja dalam senyap. Salah satu nama paling berpengaruh namun jarang tersorot kamera adalah Raden Mas Muhammad Oemar Gatab. Ia bukan sekadar perwira, melainkan tokoh yang dikenal sebagai Bapak Intelijen Kepolisian Indonesia.
Perjalanan karier Oemar Gatab adalah cermin dari fluktuasi sejarah bangsa. Menjelang peringatan hari jadi Intelijen Keamanan (Intelkam) Polri, kisah keteladanan dan dedikasinya kembali menjadi inspirasi bagi korps Bhayangkara.
Sejarah intelijen Indonesia sering kali bersinggungan dengan kompleksitas politik. Meski sempat muncul arsip yang menyebut keterkaitannya dengan era kolonial, sejarah membuktikan bahwa Oemar Gatab adalah polisi sejati.
Ia memegang teguh sumpah pengabdian: menjaga ketertiban masyarakat, siapa pun pemerintah yang berkuasa.
Pada tahun 1948, saat ibu kota pindah ke Yogyakarta, Oemar menjabat sebagai Kepala Bagian Pengawasan Aliran Masyarakat (PAM).
Lembaga ini merupakan antitesis dari Politieke Inlichtingen Dienst (PID) milik Belanda yang represif. PAM hadir dengan pendekatan humanis, mencegah konflik internal, dan menggalang kerja sama dengan rakyat.
Ketajaman insting Oemar Gatab teruji saat ia mencium bara ketegangan antara kelompok sayap kiri dan kanan jauh sebelum pecahnya Peristiwa Madiun 1948. Ia juga aktor penting dalam meredam gerakan separatis seperti APRA pimpinan Westerling demi keutuhan NKRI yang masih seumur jagung.
Transformasi intelijen kepolisian terus berlanjut di bawah kepemimpinan Oemar Gatab 1951: PAM berubah menjadi Dinas Pengawasan Keselamatan Negara (DPKN).
1958: Oemar terpilih menjadi anggota penting Badan Koordinasi Intelijen (BKI) mewakili unsur Kepolisian.
Era ABRI – 2002: Institusi ini berevolusi dari Korps Polisi Security, Korps Intelijen, hingga menjadi Badan Intelijen Keamanan (Baintelkam) Polri yang kita kenal hari ini.
Di balik ketegasan intelijen, Oemar Gatab memiliki sisi humoris dan kreatif. Sebuah kisah ikonik terjadi saat ia ditugaskan mencari model untuk patung Gajah Mada di depan Mabes Polri.
Karena ketiadaan referensi visual asli sang Mahapatih, Oemar diam-diam menggunakan foto Muhammad Jasin (Komandan Brimob saat itu) sebagai acuan pematung.
Hingga kini, wajah patung Gajah Mada di Mabes Polri sejatinya adalah rupa dari Muhammad Jasin—sebuah rahasia yang baru ia ungkapkan kepada Jasin setelah peresmian pada 1 Juli 1959.
Oemar Gatab tutup usia pada 20 Maret 1968 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Ketegasan dan kedisiplinannya menurun kepada putra tunggalnya, Indrodjojo Kusumonegoro atau yang akrab disapa Indro Warkop.
“Bapak gua pendiri intel di Indonesia, Dinas Pengawasan Keselamatan Negara yang akhirnya dipegang Angkatan Darat jadi BIN,” kenang Indro dalam sebuah wawancara.
Penetapan Hari Intelijen tak lepas dari peristiwa 2 Januari 1946, saat operasi intelijen berhasil mengawal kepindahan Presiden dan Wakil Presiden dari Jakarta ke Yogyakarta dengan selamat.
Kini, memasuki usia ke-80, semangat Oemar Gatab tetap hidup dalam semboyan “Indra Waspada, Negara Raharja”. Intelkam terus berdiri sebagai mata dan telinga negara, menjaga stabilitas dalam sunyi.
Selamat Hari Jadi Intelkam Polri ke-80.
Satya Haprabu. Jaya selalu Kepolisian Republik Indonesia. ( Redaksi)









