Puncak Jaya, realitapapua.com — Wajah-wajah ceria menghiasi SD Inpres Onendu, Distrik Nume, Kabupaten Puncak Jaya. Kehadiran personel Pos Nume dari Satgas Pamtas RI-PNG Kewilayahan Yonif 136/Tuah Sakti bukan untuk patroli keamanan biasa, melainkan untuk membawa kapur tulis dan membagikan ilmu pengetahuan kepada anak-anak di ufuk timur Indonesia.
Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan personel pengajar, para prajurit TNI ini mengambil peran sebagai guru bantu. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa pengabdian TNI di tanah Papua melampaui tugas pertahanan negara—ia juga tentang menyentuh hati dan masa depan generasi penerus bangsa.
Kegiatan belajar mengajar ini dipimpin langsung oleh Dantim Pos Nume, Sertu Jodi Nainggolan, bersama 17 personel Satgas lainnya. Alih-alih suasana kelas yang kaku, para prajurit mengemas materi dengan penuh kehangatan dan keceriaan.
Materi yang disampaikan mencakup:
Pelajaran Umum Dasar-dasar membaca, menulis, dan berhitung , Wawasan Kebangsaan Menanamkan rasa cinta tanah air sejak dini , Dan Kedisiplinan Membentuk karakter murid melalui kebiasaan positif.
Serta Memberikan semangat agar anak-anak Papua berani bermimpi setinggi langit.
“Kami ingin kehadiran Satgas bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga memberi manfaat nyata. Kami ingin menyalakan api semangat bagi generasi muda Papua agar terus belajar demi masa depan yang lebih baik,” tegas Danpos Nume Satgas Yonif 136/TS, Kapten Inf Akhmad Sultoni Yahya, S.Tr.Han.
Langkah proaktif prajurit Tuah Sakti ini mendapat apresiasi tinggi dari pihak sekolah yang selama ini menghadapi tantangan keterbatasan tenaga pendidik.
Kepala Sekolah SD Inpres Onendu, Yonus Mabel, S.Pd., mengungkapkan rasa harunya atas kehadiran para prajurit di ruang kelas. Menurutnya, kehadiran TNI memberikan warna baru yang membuat murid-murid lebih antusias berangkat ke sekolah.
“Kami sangat berterima kasih. Kehadiran bapak-bapak TNI sangat membantu kami, terutama dalam meningkatkan kedisiplinan dan semangat belajar anak-anak. Mereka jadi lebih bersemangat melihat figur TNI mengajar di depan kelas,” ujar Yonus.
Di balik seragam loreng dan tugas negara yang berat, prajurit Yonif 136/Tuah Sakti membuktikan bahwa senjata terbaik untuk membangun Papua adalah kasih sayang dan pendidikan. Di Distrik Nume, mereka bukan sekadar penjaga perbatasan, melainkan kakak, guru, dan inspirasi bagi anak-anak negeri untuk terus melangkah maju. (Redaksi)









