Jayapura,realitapapua.com – Rumah Sakit (RS) Marthen Indey Jayapura angkat bicara terkait kasus kematian ibu dan bayi yang memicu persoalan dengan pihak keluarga pasien.
Kepala Rumah Sakit (Karumkit) Marthen Indey, Kolonel Ckm dr. Rudy Dwi Laksono, menyatakan pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh dan audit medis untuk mengungkap penyebab pasti kejadian tersebut.
Pernyataan ini disampaikan dr. Rudy usai melakukan pertemuan mediasi dengan pihak keluarga korban yang dihadiri pula oleh perwakilan Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Dinas Kesehatan Provinsi Papua, serta pihak Kodam XVII/Cenderawasih.pada Senin (29/12/2025)
Belum Ada Kesepakatan dengan Keluarga
Meski telah dilakukan pertemuan, dr. Rudy mengakui bahwa hingga saat ini belum tercapai titik temu atau kesepakatan antara pihak rumah sakit dan keluarga korban.
Namun, ia menegaskan bahwa secara internal, RS Marthen Indey akan melakukan pembenahan besar-besaran.
“Sementara memang belum sepakat. Tapi untuk internal, kami akan mengevaluasi semuanya, mulai dari SOP (Standard Operating Procedure), tindakan medis, hingga sikap dokter maupun perawat. Kami akan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari,” ujar dr. Rudy kepada awak media.
Menurutnya, faktor komunikasi sering kali menjadi kendala dalam pelayanan medis. Ia berharap ke depannya komunikasi antara tenaga medis dan keluarga pasien bisa berjalan lebih intens dan transparan.
Audit Maternal Melibatkan Kemenkes Pusat
Menanggapi pertanyaan mengenai prosedur penanganan medis, dr. Rudy mengklaim bahwa sejauh ini penanganan telah dilakukan sesuai SOP yang berlaku sejak pasien tiba hingga dinyatakan meninggal dunia. Namun, untuk memastikan hal tersebut, akan dilakukan Audit Maternal.
“Kami akan mengadakan audit maternal untuk mengetahui mengapa ibu dan bayi tersebut meninggal dunia. Audit ini akan dilakukan langsung oleh pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI di Jakarta melalui video conference (Zoom),” jelasnya.
Audit ini rencananya akan digelar dalam waktu dekat dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk organisasi profesi seperti POGI (Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia), bidang pelayanan dan mutu Kemenkes, serta Dinas Kesehatan setempat. Evaluasi akan mencakup pemeriksaan dokumen medis, aturan SOP, hingga kompetensi personel yang bertugas saat kejadian.
Terkait isu kekosongan dokter spesialis saat kejadian yang bertepatan dengan suasana Natal dan Tahun Baru (Nataru), dr. Rudy menjelaskan bahwa sistem yang diterapkan adalah sistem jaga atau on-call.
“Dokter spesialis kami ada tiga orang. Karena ini masa libur Nataru, mereka membagi tugas atau saling mem-backup. Jadi tetap ada dokter yang bertugas (standby) secara bergantian. Jika kondisi pasien tidak stabil dan sangat memerlukan kehadiran fisik, dokter tersebut pasti datang,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa keputusan klinis sepenuhnya berada di tangan dokter yang bertugas.
RS Marthen Indey berkomitmen untuk bersikap terbuka terhadap hasil audit nantinya. Jika dalam proses audit ditemukan adanya pelanggaran prosedur atau kelalaian tenaga medis, dr. Rudy menyatakan akan menyampaikannya secara jujur sebagai bentuk pertanggungjawaban dan bahan perbaikan institusi.
“Kalau memang ditemukan ada pelanggaran atau kesalahan, akan kami sampaikan. Itu menjadi catatan untuk perbaikan internal kami ke depannya,” pungkasnya. ( Redaksi)









